Jumat, 16 Januari 2015
KISAH UMAR BIN KHATTAB R.A BAG. 1
Ahad Pagi waktu Gaza (07/12/2014), sebuah artikel terbit di akun Facebook resmi milik Dr. Musa Abu Marzuq, Wakil Kepala Maktab Siyasi (Biro Politik) Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas), berisi peristiwa yang dialami ‘Umar bin Khattab sebagai khalifah umat Islam kedua sepeninggal Utusan Allah terakhir di muka bumi.
Latar belakang kisah ini penting karena terjadi sepulangnya Amirul Mu’minin (Pemimpin Orang-orang Beriman) ‘Umar bin Khattab membebaskan kota Al-Quds dan Masjidil Aqsha dari cengkeraman penjajahan Kristen Romawi. Ini adalah salah satu puncak kedigdayaan umat Islam di bawah kepemimpinan ‘Umar.
Berikut ini kisah yang disiarkan Dr. Musa Abu Marzuq:
“Sepulang dari perjalanannya ke Negeri Syam, ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu (Semoga Allah meridhainya) pergi seorang diri menuju kota Madinah untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia kemudian melihat seorang nenek tengah berada dalam gubuknya, didekatilah gubuk itu. Nenek yang tak mengenalnya itu kemudian bertanya, “apa yang sedang di lakukan ‘Umar?”
“Dia baru saja tiba dari Syam,” jawab ‘Umar
“Semoga Allah tidak memberikan kepadanya kebaikan,” ujar nenek itu.
“Kenapa begitu ?” tanya Umar penasaran.
“Karena demi Allah sejak ia diangkat menjadi Amirul Mu’minin, tidak sepeserpun dirham atau dinar aku terima darinya.”
‘Umar menjawab, “Mungkin saja dia tidak mengetahui keadaanmu.”
Nenek itu, “Subhanallah! Demi Allah aku tidak mengira ada orang yang diberi amanah memimpin manusia, tetapi dia tidak tahu keadaan setiap yang dipimpinnya dari timur hingga barat.”
Seketika ‘Umar menangis, “Semua manusia lebih pintar darimu, wahai ‘Umar, bahkan nenek tua ini pun lebih pintar darimu.”
‘Umar berkata kepada nenek itu, “Nek, berapa engkau jual harga kezhaliman Umar ? Karena aku berharap ia diberi rahmat oleh Allah dari api neraka.”
Nenek menjawab, “Tak perlu seperti itu, semoga Allah merahmatimu.”
‘Umar terus membujuk nenek itu sampai ia membeli kezhaliman dari nenek itu dengan 25 dinar emas (setara dengan Rp 46,3 juta). Ketika itu datanglah ‘Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas’ud seraya mengucapkan salam kepada ‘Umar, “Assalaamu ‘alaika, wahai Amirul Mu’minin.”
Mendengar kata “Amirul Mu’minin” nenek itu menaruh kedua tanganya diatas kepalanya sambil berujar, “Duhai sangat memalukan, aku mencela Amirul Mu’minin dihadapannya langsung.”
“Tidak apa-apa. Semoga Allah merahmatimu,” kata ‘Umar.
Umar meminta diambilkan kertas, namun tidak didapatinya. Kemudian ia merobek pakaianya sendiri dan menuliskan diatasnya: “BismillahirRahmanirRahim. Dengan ini ‘Umar membeli kezhalimannya kepada nenek tua sejak ia menjabat sampai sekarang dengan 25 dinar. Maka nanti di Padang Mahsyar ketika ia menghadap Allah perkara ini tidak membebaninya lagi. ‘Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas’ud sebagai saksinya.”
‘Umar kemudian menyerahkan kain itu kepada salah satu anaknya seraya berpesan: “Kelak ketika aku mati, taruh kain ini bersama kain kafanku agar terbawa saat aku menemui Rabb-ku.”
SURAT AL-KAHFI MENGANDUNG EMPAT UNSUR COBAAN
1. Fitnah agama
Kisah sekelompok pemuda yang lari dari penguasa yang zalim untuk menyelamatkan agama mereka kemudian mereka bertempat di sebuah goa bersama seekor anjing yang menemani mereka selama tahun 300 -tiga ratus tahun- (kalau dihitung dengan hitungan tahun peredaran matahari) dan ditambah sembilan tahun menjadi 309 -tiga ratus Sembilan tahun- (menurut hitungan berdasarkan peredaran rembulan). Kemudian setelah jangka waktu tersebut desa tempat mereka tinggal telah berubah mengikuti agama tauhid.
Allah swt memberikan isyarat setelah ayat yang menerangkan mereka bagaimana cara agar terjaga dari fitnah tersebut yang termaktub dalam surat al-kahfi ayat 28-29 yaitu:
واصبر نفسك مع الذين يدعون ربهم بالغداة والعشي يريدون وجهه ولا تعد عيناك عنهم تريد زينة الحياة الدنيا ولا تطع من أغفلنا قلبه عن ذكرنا واتبع هواه وكان أمره فرطا * وقل الحق من ربكم فمن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر إنا أعتدنا للظالمين نارا أحاط بهم سرادقها وإن يستغيثوا يغاثوا بماء كالمهل يشوي الوجوه بئس الشراب وساءت مرتفقا
Dengan berteman dengan yang baik dan ingat kepada akhirat.
2. Fitnah harta dan anak
Kisah orang yang mempunyai dua kebun yang mengkufuri nikmat-nikmat Allah dan mengingkari hari kebangkitan, kemudian dihancurkan oleh Allah swt.
Allah swt memberikan isyarat bagaimana cara agar terjaga dari fitnah tersebut, seperti yang termaktub dalam surat al-kahfi ayat 45-46 yaitu:
واضرب لهم مثل الحياة الدنيا كماء أنزلناه من السماء فاختلط به نبات الأرض فأصبح هشيما تذروه الرياح وكان الله على كل شيء مقتدرا * المال والبنون زينة الحياة الدنيا والباقيات الصالحات خير عند ربك ثوابا وخير أملا
3. Fitnah ilmu
Kisah nabi musa yang menganggap dirinya orang paling alim di muka bumi, kemudian Allah memberitahu kepada nabi musa bahwa pada suatu tempat terdapat orang yang lebih alim dari beliau dan musa diperintah untuk menemui dan belajar darinya yaitu nabi hidlir, tetapi musa tidak sabar terhadap apa yang dilakukan oleh hidlir kerena memandang dlohirnya dan belum memahami hikmah yang terkandung dalam pekerjaan yang dilakukan hidlir.
Allah swt memberikan isyarat bagaimana cara agar terjaga dari fitnah tersebut, seperti yang termaktub dalam surat al-kahfi ayat 69 yaitu:
قال ستجدني إن شاء الله صابرا ولا أعصي لك أمرا
Dengan tawadlu’ dan tidak terbujuk bahwa dia telah menjadi oarng alim.
4. Fitnah kekuasaan
Kisah raja dzul qornain raja yang adil dan menguasai barat dan timur, ia mengajak manusia kepada Allah dan menyebarkan kebenaran, hingga sampai pada suatu kaum yang takut terhadap ya’juj ma’juj, dan beliau menolong mereka dalam membangun suatu benteng untuk mencegah kezaliman ya’juj ma’juj. Dan benteng tersebut masih berdiri dengan kukuh sampai hari ini.
Allah swt memberikan isyarat bagaimana cara agar terjaga dari fitnah tersebut, seperti yang termaktub dalam surat al-kahfi ayat 103-104 yaitu:
قل هل ننبئكم بالأخسرين أعمالا * الذين ضل سعيهم في الحياة الدنيا وهم يحسبون أنهم يحسنون صنعا
Dengan ikhlas dalam beramal dan ingat kepada akhirat.
Dan pada akhir surat tersebut Allah memberikan cara supaya terhindar dari fitnah-fitnah tersebut yaitu yang termaktub dalam surat al-kahfi ayat 110:
ختام السورة: العصمة من الفتن: آخر آية من سورة الكهف تركز على العصمة الكاملة من الفتن بتذكر اليوم الآخرة (قل إنما أنا بشر مثلكم يوحى إلي أنما إلهكم إله واحد فمن كان يرجو لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا ) آية 110
فعلينا أن نعمل عملا صالحا صحيحا ومخلصا لله حتى يقبل، والنجاة من الفتن إنتظار لقاء الله تعالى
Maka seyogyanya bagi kita untuk beramal sholah dengan didasari keikhlasan sehingga diterima oleh Allah dan selamat dari fitnah baik di dunia maupun akhirat.
اللٰهم اكشف عنا من البلاء والوباء والزنا والفحشاء والزلازل والمحن وسوء الفتن ما ظهر منها وما بطن عن بلدنا هٰذا خاصة وعن سائر بلاد المسلمين عامة يا رب العالمين، اللٰهم انصرنا والمسلمين على الأعداء أعدائك وأعداء الدين وصلى الله وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى
آله وصحبه آمين
Sabtu, 10 Januari 2015
AL-QUR'AN PEMBERSIH LAHIR DAN BATIN KITA
Alkisah, hiduplah si tua dengan ditemani cucunya di sebuah desa pegunungan.
Tiap hari dia bangun pagi-pagi dan membaca al-Quran dekat perapian dapur. SI
Cucu yang mengidolakannya berupaya mengikutinya. Berkali-kali dia ikut membaca
al-Quran.
Suatu pagi usai ikut membaca al-Quran si Cucu mengajukan pertanyaan:
“Kakek, saya berkali-kali berupaya mengikuti Kakek membaca al-Quran. Tapi tiap kali membaca saya merasa tak mendapatkan apa-apa. Saya tak mampu memahami apa yang saya baca! Apa yang bisa saya peroleh dari membaca al-Quran ini?”
Kakek itu mengambil sisa-sisa arang dari keranjang dan memasukkannya ke dalam perapian. Lalu katanya kepada si Cucu dengan senyum ketentraman:
“Ambil lah keranjang yang telah kosong ini! Pergilah ke sungai dan gunakan keranjang ini untuk mengambil air!”
Demi memenuhi perintah sang Kakek yang ia kagumi, dia pergi ke sungai untuk mengambil air. Tentu saja ini adalah usaha yang sia-sia belaka. Sesampai di rumah keranjang benar-benar kosong.
“Mungkin kamu kurang cepat lari sehingga air tercecer semua,” kata si Kakek.
Dia menuruti si Kakek. Ia mengambil air di sungai lalu berlari balik ke rumah. Tapi usahanya tetap sia-sia. Air sama sekali tak tersisa dalam keranjang.
“Mustahil, Kek! Mana bisa keranjang digunakan untuk mengangsu air ..!? Jika Kakek menginginkan air akan saya ambilkan dengan timba saja!” katanya dengan agak kesal.
“Cucuku, saya tidak memintamu mengangsu dengan timba. Saya memintamu mengangsu dengar keranjang! Tampaknya usahamu mengangsu kurang keras .. Saya akan temani dirimu mengangsu.”
Kakek dan cucu itu berjalan menuju sungai. Si Cucu yakin benar bahwa ini adalah sia-sia belaka, tapi ia ingin patuh kepada sang Kakek. Ia turun ke sungai lalu memasukkan keranjang ke dalam air. Ia mengambil ancang-ancang lalu berlari ke arah kakeknya yang berada di tepian sungai.
“Lihat, Kek! Sama sekali tak ada airnya. Ini sungguh sia-sia belaka ..”
“Kamu mengira demikian? Lihat keranjang ini cucuku .. Perhatikan lah dengan baik!”
Si Cucu melihat penuh selidik ke arah keranjang, dan dia menemukan adanya perubahan. Keranjang yang semula hitam dan kotor bekas arang, sekarang telah bersih dan putih. Luarnya bersih dalamnya juga bersih.
“Demikianlah Cucuku jika engkau mau secara istiqamah membaca al-Quran. Mungkin kamu tidak dapat memahami apa yang engkau baca, dan juga mungkin engkau begitu cepat melupakan sedikit yang telah engkau pahami. Tapi sebetulnya tanpa kau sadari kamu telah membersihkan lahir dan batinmu, tepat seperti keranjang ini!.”
#Mari membaca al-Quran dan berkawan dengannya meski hanya setengah halaman setiap hari.
Suatu pagi usai ikut membaca al-Quran si Cucu mengajukan pertanyaan:
“Kakek, saya berkali-kali berupaya mengikuti Kakek membaca al-Quran. Tapi tiap kali membaca saya merasa tak mendapatkan apa-apa. Saya tak mampu memahami apa yang saya baca! Apa yang bisa saya peroleh dari membaca al-Quran ini?”
Kakek itu mengambil sisa-sisa arang dari keranjang dan memasukkannya ke dalam perapian. Lalu katanya kepada si Cucu dengan senyum ketentraman:
“Ambil lah keranjang yang telah kosong ini! Pergilah ke sungai dan gunakan keranjang ini untuk mengambil air!”
Demi memenuhi perintah sang Kakek yang ia kagumi, dia pergi ke sungai untuk mengambil air. Tentu saja ini adalah usaha yang sia-sia belaka. Sesampai di rumah keranjang benar-benar kosong.
“Mungkin kamu kurang cepat lari sehingga air tercecer semua,” kata si Kakek.
Dia menuruti si Kakek. Ia mengambil air di sungai lalu berlari balik ke rumah. Tapi usahanya tetap sia-sia. Air sama sekali tak tersisa dalam keranjang.
“Mustahil, Kek! Mana bisa keranjang digunakan untuk mengangsu air ..!? Jika Kakek menginginkan air akan saya ambilkan dengan timba saja!” katanya dengan agak kesal.
“Cucuku, saya tidak memintamu mengangsu dengan timba. Saya memintamu mengangsu dengar keranjang! Tampaknya usahamu mengangsu kurang keras .. Saya akan temani dirimu mengangsu.”
Kakek dan cucu itu berjalan menuju sungai. Si Cucu yakin benar bahwa ini adalah sia-sia belaka, tapi ia ingin patuh kepada sang Kakek. Ia turun ke sungai lalu memasukkan keranjang ke dalam air. Ia mengambil ancang-ancang lalu berlari ke arah kakeknya yang berada di tepian sungai.
“Lihat, Kek! Sama sekali tak ada airnya. Ini sungguh sia-sia belaka ..”
“Kamu mengira demikian? Lihat keranjang ini cucuku .. Perhatikan lah dengan baik!”
Si Cucu melihat penuh selidik ke arah keranjang, dan dia menemukan adanya perubahan. Keranjang yang semula hitam dan kotor bekas arang, sekarang telah bersih dan putih. Luarnya bersih dalamnya juga bersih.
“Demikianlah Cucuku jika engkau mau secara istiqamah membaca al-Quran. Mungkin kamu tidak dapat memahami apa yang engkau baca, dan juga mungkin engkau begitu cepat melupakan sedikit yang telah engkau pahami. Tapi sebetulnya tanpa kau sadari kamu telah membersihkan lahir dan batinmu, tepat seperti keranjang ini!.”
#Mari membaca al-Quran dan berkawan dengannya meski hanya setengah halaman setiap hari.
Kamis, 08 Januari 2015
DO’A MENYEMBELIH HEWAN AQIQAH DAN DO'A WALIMATUL 'AQIQAH
DOA MENENYEMBELIH HEWAN AQIQAH
Aqikah Putri ke 3 dari bapak Anto
Pristiwantoro dan ibu Siti Hotimah
Hari Jum’at, 09 Januari 2015 Di
Ponpes Daar El Istiqomah, Serang
Ananda: Ramaezyia Nasiha
Alifatunnisa’ Pristiwantoro
Hadiah Do’a juga buat: Ibu Sulesti
dan Bapak Amat
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَللّهُمَّ رَبِّىْ,
هَذِهِ عَقِيْقَةُ ........... بِنْ............. دَمُهَا بِدَمِهِ وَلَحْمُهَا بِلَحْمِهِ
وَعَظْمُهَا بِعَظْمِهِ وَجِلْدُهَا بِجِلْدِهِ وَشَعْرُهَا بِشَعْرِهِ. اَللَّهُمَّ
اجْعَلْهَا فِدَاءً لِ...بن....مِنَ النَّارِ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَللّهُمَّ رَبِّىْ,
هَذِهِ عَقِيْقَةُ ..ْ.......بنت... دَمُهَا بِدَمِها وَلَحْمُهَا بِلَحْمِهِا وَعَظْمُهَا
بِعَظْمِهِا وَجِلْدُهَا بِجِلْدِهِا وَشَعْرُهَا بِشَعْرِهِا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا
فِدَاءً لِ..................بنت.............مِنَ النَّارِ
DO’A WALIMATUL ‘AQIQAH
بِسْمِ اللهِ الرّحمنِ الرّحِيمِ, وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيّدِناَ
محمّدٍ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ, اَللّهُمَّ اُعِيْذُهُ بِالْوَاحِدِ الصَّمَدِ
مِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ حَسَـدٍ. اُعِيْذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْـطَانِ
الرَّجِيْمِ. اَللّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا اْلوَلَدَ وَلَدًا صَالِحًا. / هذه البنت بنتا صالحة اَللّهُـمَّ
اِنَّا نَسْأَلُكَ السَّـلاَمَةَ فِى الدُّنْياَ وَالدِّيْنِ وَنَسْأَلُكَ الزِّيَادَةَ
وَالْبَرَكَةَ فِى اْلعِلْـمِ وَارْزُقِ الْمَرْزُوْقِيْنَ. اِلَهِى اِنَّكَ قَدْ عَلَّمْتَ
اَدَمَ اْلاَسْمَاءَ كُلَّهَا وَقَدْ اَمَرَنَا نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ بِإِحْسـَانِهَا فَهَا نَحْنُ نُسَمَّى هَذَا الْوَلَدَ بِاسْمِ يُنَاسِبُ
اَهْلَ الْبَيْتِ... اِلَهِى اَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ
اْلإِخْلاَصِ وَعَلىَ دِيْنِ نَبِيِّناَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
عَلَى مِلَّةِ اَبِيْنَا اِبْرَاهِيْـمَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ.
اَللّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ لِسَاناًذَاكِرًا وَقَلْبًا شَاكِرًا وَبَدَنًاصَابِرًا
وَزَوْجَةً تُعِيْنُنَا فِى الدُّيْنَا وَاْلآخِرَةِ. وَنَعُوْذُبِكَ يَا رَبَّنَا
مِنْ وَلَدٍ يَكُوْنُ عَلَيْناَ سَيِّدًا وَمِنِ امْرَاَةِ تُشَيِّبُنَا قَبْلَ وَقْتِ
الْمَشِيْبِ وَمِنْ مَالٍ يَكُوْنَ عَذَابًا لَّنَا وَوَبَالاً عَلَيْنَا وَمِنْ جَارٍ
اِنْ رَّآى مِنَّا حَسَنَةً كَتَمَهَا وَاِنْ رَّآى مِنَّا سَيِّئَةً اَفْشَاهًا.
اَللّهُـمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا عَقِيْقَتَنَا رَبَّناَ, بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحمَ
الرَّاحِمِـيْنَ.
واَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمـِيْنَ.
Sabtu, 03 Januari 2015
SELAMAT TAHUN BARU
Oleh: KH MUSTOFA BISRI
Selamat Tahun Baru KawanKawan, Sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk?
Memandang diri sendiri?
bercermin firman Tuhan sebelum kita dihisabnya?
Kawan, siapakah kita ini sebenarnya?
Musliminkah? Mukminin? Muttaqin? Khalifah Allah? Umat Muhammad-kah kita?
Khaira ummatin kah kita? atau kita sama saja dengan makhluk lain?
atau bahkan lebih rendah lagi?
Hanya budak-budak perut dan kelamin.
Iman kita kepada Allah dan yang ghaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan, lebih pipih dari kain rok perempuan.
Betapapun tersiksa, kita Khusyuk di depan massa dan tiba-tiba buas dan binal justru di saat sendiri bersamaNya.
Syahadat kita rasanya seperti perut bedug, atau pernyataan setia pegawai rendahan, kosong tak berdaya.
Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam Ibu-ibu, lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan seribu anak muda.
Do’a kita sesudahnya justru lebih serius kita memohon hidup enak di dunia dan bahagia disurga.
Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadual makan minum dan saat istirahat tanpa menggeser acara buat syahwat.
Ketika datang lapar atau haus; kitapun menggut-manggut “Oh beginikah rasanya” dan kita sudah merasa memikirkan saudara-saudara kita yang melarat.
Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilannya untuk kupon undian yang sia-sia..
Kalaupun terkeluarkan harapanpun tanpa ukuran, upaya-upaya Tuhan menggantinya beripat ganda.
Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan material.
Membuang uang kecil dan dosa besar, lalu pulang membawa label suci asli made in Saudi.. HAJI.
Kawan, lalu bagaimana, bilamana dan berapa lama kita BersamaNya?
Atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya
Mensiasati dunia sebagai khalifahnya.
Kawan, tak terasa kita semakin pintar
Mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita, paling tidak kita semakin pintar berdalih.
Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan
Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran
Melacur dan menipu demi keselamatan
Memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan
Memukul dan mencaci demi pendidikan
Berbuat semuanya demi kemerdekaan
Tidak berbuat apa-apa demi ketentraman
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian
Pendek kata, demi semua yang baik, halallah semua sampaipun yang paling tidak baik
Lalu bagaimana para cendikiawan dan seniman?
Para mubaligh dan kiai penyambung lidah Nabi?
Jangan ganggu mereka.
Para cendikiawan sedang memikirkan segalanya
Para seniman sedang merenungkan apa saja
Para muballigh sedang sibuk berteriak kemana-mana
Para kiai sedang sibuk berfatwa dan berdo’a
Para pemimpin sedang mengatur semuanya
Biarkan mereka diatas sana
Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri.
Kawan, selam tahun baru
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk dan memandang diri sendiri?
AMALAN MELUASKAN RIZKI
Ada seorang laki-laki mengeluh kefaqiran dan sempitnya kehidupan kepada Rosululloh.
Kemudian Beliau memberikan solusi dengan sabdanya: ketika engkau masuk rumah, maka ucapkanlah salam (minimal: assalamu alaikum) apabila ada orang di dalamnya, kalau tidak ada orang di dalam rumah maka ucapkanlah salam kepadaku (minimal: As-salaamu alaika ayyuhan nabiyyu, apabila berkeinginan menyempurnakan ditambah: warohmatullooh wabarokatuh), dan bacalah surat qul huwalloohu ahad satu kali. Kemudian laki-laki itu melakukan petunjuk Nabi dan Setelah itu ALLOOH meluaskan serta mengalir deraskan rizqinya hingga meluber kepada para tetangganya.
Tafsir Al-Showy juz 4.
Hal ini juga sering diingatkan oleh Syaikhina Maimoen kepada tamu yang mengeluhkan sempitnya rizqi.
Kemudian Beliau memberikan solusi dengan sabdanya: ketika engkau masuk rumah, maka ucapkanlah salam (minimal: assalamu alaikum) apabila ada orang di dalamnya, kalau tidak ada orang di dalam rumah maka ucapkanlah salam kepadaku (minimal: As-salaamu alaika ayyuhan nabiyyu, apabila berkeinginan menyempurnakan ditambah: warohmatullooh wabarokatuh), dan bacalah surat qul huwalloohu ahad satu kali. Kemudian laki-laki itu melakukan petunjuk Nabi dan Setelah itu ALLOOH meluaskan serta mengalir deraskan rizqinya hingga meluber kepada para tetangganya.
Tafsir Al-Showy juz 4.
Hal ini juga sering diingatkan oleh Syaikhina Maimoen kepada tamu yang mengeluhkan sempitnya rizqi.
TITIP KEPADA ALLAH SWT
Cerita: Kang Wahyudi
Ada tamu bertandang ke ndalem seorang kyai, setelah mengucapkan salam, berjabat tangan dengan mencium tangan sang kyai, terjadilah perbincangan yang hangat diantara tamu dan tuan rumah yang tak lain adalah sang kyai.
tuan rumah: Dari mana?.
tamu: Dari Madura kyai.
tuan rumah: Madura dimmah (mana)?
tamu: Bangkalan.
tuan rumah: Saya ini orang bangkalan, walaupun lahir dan besar di jawa, tapi kakek nenek moyang ada yang dari bangkalan. ada perlu bagaimana?
tamu: mau menitipkan anak mondok di sini.
tuan rumah: jangan titipkan kepada saya, titipkan kepada ALLOOH, mana anak yang mau mondok?
tamu: ini kyai, anak saya yang ketiga.
tuan rumah: putra bapak berapa?
tamu: tiga kyai.
tuan rumah: tiga itu sudah banyak. coba, putra nabi berapa?
tamu: tujuh.
tuan rumah: iya tujuh, tapi ada tiga anak yang harus meninggal kecil, yang laki-laki: Qosim, Abdulloh dan Ibrohim. jadi tujuh dikurangi tiga berapa? kan empat dan semua perempuan.
tamu: iya kyai.
tuan rumah: dari empat itu, yang tidak mempunyai keturunan ada dua yaitu Ruqoyyah dinikah oleh sayyidina ustman, kemudian Ruqoyyah meninggal, nabi mengkawinkan sayyiddina ustman dengan adik ruqoyyah yang bernama ummu kultsum. kemudian ummu kultsum pun meninggal tanpa keturunan, nabi berkata kalau aku masih mempunyai anak perempuan, niscaya aku nikahkan kembali dengan ustman. jadi anak nabi tinggal berapa?
tamu: tinggal dua kyai.
tuan rumah: dua ini yang mempunyai putra-putri. Anak perempuan pertama Nabi, Zainab bersuami Abil ‘Ash bin Rabi saudara sepupunya, putra bibinya yang bernama Halah binti Khuwailid, saudara kandung dari Khadijah. suami istri ini mempunyai putri bernama Umamah. dan Fathimah anak bungsu Nabi bersuami Ali bin Abi Tholib mempunyai putra, Hasan, Husain dan Muhsin yang meninggal kecil, dan mempunyai putri, Zainab dan ummi kultsum.
tamu: iya kyai.
tuan rumah: anak nabi tujuh, ya memang semuanya tujuh, anak nabi tiga, ya memang putranya yang laki tiga, anak nabi empat, ya memang putri nabi empat, anak nabi dua, memang yang bisa mempunyai keturunan Cuma dua. tidak boleh mencemooh orang yang mempunyai anak sedikit, banyak anaknya atau yang tak mempunyai anak.
tamu: iya, terima kasih, minta doa kyai.
tuan rumah: saya juga didoakan, Cuma satu permintaan saya, apabila meninggal mendapatkan husnul khotimah.
tamu: Insya ALLOOH, minta pamit kyai.
tuan rumah: Nanti dulu, cong iki durung ono ngombene, jajane diubengno.
nggeh
Begitulah secuil gambaran Beliau dalam menerima tamu, tentu anda sekalian tahu siapa yang saya maksud dengan Beliau.
اللهم ارزقه الصحة والعافية والسلامة من كل الآفات والبليات والفتن واقض حاجاته وآماله التي أكبرها نيل حسن الختام والفوز بالجنة دار الفضل والإنعام بجاه نبينا محمد سيد الأنام من العرب والعجم صلوات الله وسلامه عليه وعلى آله وصحبه ما دامت الليالي والأيام وأنلنا محبته وبركته حتى نلقى الله السلام في دار السلام
Ada tamu bertandang ke ndalem seorang kyai, setelah mengucapkan salam, berjabat tangan dengan mencium tangan sang kyai, terjadilah perbincangan yang hangat diantara tamu dan tuan rumah yang tak lain adalah sang kyai.
tuan rumah: Dari mana?.
tamu: Dari Madura kyai.
tuan rumah: Madura dimmah (mana)?
tamu: Bangkalan.
tuan rumah: Saya ini orang bangkalan, walaupun lahir dan besar di jawa, tapi kakek nenek moyang ada yang dari bangkalan. ada perlu bagaimana?
tamu: mau menitipkan anak mondok di sini.
tuan rumah: jangan titipkan kepada saya, titipkan kepada ALLOOH, mana anak yang mau mondok?
tamu: ini kyai, anak saya yang ketiga.
tuan rumah: putra bapak berapa?
tamu: tiga kyai.
tuan rumah: tiga itu sudah banyak. coba, putra nabi berapa?
tamu: tujuh.
tuan rumah: iya tujuh, tapi ada tiga anak yang harus meninggal kecil, yang laki-laki: Qosim, Abdulloh dan Ibrohim. jadi tujuh dikurangi tiga berapa? kan empat dan semua perempuan.
tamu: iya kyai.
tuan rumah: dari empat itu, yang tidak mempunyai keturunan ada dua yaitu Ruqoyyah dinikah oleh sayyidina ustman, kemudian Ruqoyyah meninggal, nabi mengkawinkan sayyiddina ustman dengan adik ruqoyyah yang bernama ummu kultsum. kemudian ummu kultsum pun meninggal tanpa keturunan, nabi berkata kalau aku masih mempunyai anak perempuan, niscaya aku nikahkan kembali dengan ustman. jadi anak nabi tinggal berapa?
tamu: tinggal dua kyai.
tuan rumah: dua ini yang mempunyai putra-putri. Anak perempuan pertama Nabi, Zainab bersuami Abil ‘Ash bin Rabi saudara sepupunya, putra bibinya yang bernama Halah binti Khuwailid, saudara kandung dari Khadijah. suami istri ini mempunyai putri bernama Umamah. dan Fathimah anak bungsu Nabi bersuami Ali bin Abi Tholib mempunyai putra, Hasan, Husain dan Muhsin yang meninggal kecil, dan mempunyai putri, Zainab dan ummi kultsum.
tamu: iya kyai.
tuan rumah: anak nabi tujuh, ya memang semuanya tujuh, anak nabi tiga, ya memang putranya yang laki tiga, anak nabi empat, ya memang putri nabi empat, anak nabi dua, memang yang bisa mempunyai keturunan Cuma dua. tidak boleh mencemooh orang yang mempunyai anak sedikit, banyak anaknya atau yang tak mempunyai anak.
tamu: iya, terima kasih, minta doa kyai.
tuan rumah: saya juga didoakan, Cuma satu permintaan saya, apabila meninggal mendapatkan husnul khotimah.
tamu: Insya ALLOOH, minta pamit kyai.
tuan rumah: Nanti dulu, cong iki durung ono ngombene, jajane diubengno.
nggeh
Begitulah secuil gambaran Beliau dalam menerima tamu, tentu anda sekalian tahu siapa yang saya maksud dengan Beliau.
اللهم ارزقه الصحة والعافية والسلامة من كل الآفات والبليات والفتن واقض حاجاته وآماله التي أكبرها نيل حسن الختام والفوز بالجنة دار الفضل والإنعام بجاه نبينا محمد سيد الأنام من العرب والعجم صلوات الله وسلامه عليه وعلى آله وصحبه ما دامت الليالي والأيام وأنلنا محبته وبركته حتى نلقى الله السلام في دار السلام
Langganan:
Postingan (Atom)