Selasa, 22 April 2014

Hukum Memotong Rambut dan Kuku ketika Junub




Memang ada penjelasan dalam kitab Syarah Al-Iqna’ Matan Abi Suja’ (Fiqh Syafi’iyah):
 شرح الاقناع لمتن ابى شجاع فى فقه الشافعىية قال فى الاحياء: لا ينبغى أن يحلق او يقلم او يستحد –يحلق عانتة- اويخرج دما او يبين –يقطع- من نفسه جزأ وهو جنب, اذ ترد اليه سائر أجزائه فى الاخرة فيعود جنبا, ويقال:إن كل شعرة تطالبه بجنابته.
Artinya: “ di katakan dalam kitab syarah iqna’ matan Abi Suja’ dalam fiqh Syafi’iah di kutib dari kitab Al-Ihya: “tidak di perkenankan mencukur atau memotong rambut kemaluan, atau mengalirkan darah dari anggota badan (dalam keadaan junub), karena semua anggota badanya kelak di akhirat akan di kembalikan dalam keadaan junub, dan di katakan: sesungguhnya setiap helai rambut  di tanyakan.
Akan tetapi ungkapan diatas merupakan ungkapan yang tidak ada dasar dalilnya. Pertanyaan yang sama pernah diajukan kepada Ibnu Taimiyah “ apakah dilarang bagi seorang junub untuk memotong bagian tubuhnya dan apakah apabila nanti memotongnya akan ditanyakan pada hari kiamat?” maka beliau menjawab: “  bahwa telah ditetapkan dari Nabi Muhammad Saw. Ketika disebut tentang junub beliau menjawab: “ان الؤمن لا ينجس حيا ولا ميت” kemudian beliau meneruskan bicaranya dan mengatakan bahwa: “aku tidak mengetahui dalil yang menunjukkan tentang larangan memotong rambut ataupun kuku ketika junub, akan tetapi Nabi Muhammad saw bersabda ketika ada kasus orang yang baru masuk Islam:  “الق عنك شعر الكفر واختتن” maksudnya Nabi menyuruh orang tersebut untuk segera memotong rambutnya dan menyuruhnya untuk mengkhitan (menyunat) kemaluannya tanpa harus menunggu mandi junub terlebih dahulu. Demikian juga Nabi saw. Menyuruh wanita yang sedang haid untuk menyisir rambutnya ketika mandi, walaupun menyisir rambut juga bisa menghilangkan/ merontokkan rambut. Maka atas dasar ini memotong rambut dan juga kuku ketika haid bukanlah merupakan suatu yang makruh apalagi haram.
Disarikan oleh Kholid Ma'mun, dari kitab فتاوى واحكام للمرأة المسلمة- لفضيلة الشيخ عطية صقر   hal 28-29

Wanita yang sedang haid mengajarkan bacaan Al-Qur’an




Hal-hal yang diharamkan bagi wanita yang sedang haid, nifas dan sedang dalam keadaan junub: antara lain: Shalat, thawaf, berdiam di masjid, membaca dan menyentuh Al-Qur’an.
Adapun membawa kitab/buku agama (yang didalamnya ada ayat-ayat Al-Qur’an) maka diperbolehkan karena itu bukan termasuk mushaf yang masuk dalam cakupan dalil Al-Qur’an surat Al Waqi’ah ayat 77-79 :
انه لقران كريم * فى كتاب مكنون * لا يمسه الا المطهرون
Artinya: “sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia * pada kitab yang terpelihara (lawh mahfuz) * tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. (QS. Al-Waqi’ah 77-79)
Hukum membaca Al-Qur’an bagi orang junub walaupun tanpa menyentuh dan membawanya:
1.      Jumhur ulama’ tidak boleh, hal ini berdasarkan hadits yang di riwayatkan oleh اصحاب السنن imam-imam Hadits:
ان النبى صلى الله عليه وسلم كان لا يحجبه عن القرأة شيئ الا الجنابة. وصصحه الترمذي هذاالحديث.
Artinya: “ Bahwa Nabi Muhammad saw. Bersabda tidak ada yang menghalangi untuk baca Al-Qur’an kecuali janabah (junub). dan hadits ini di shahihkan oleh Imam Tirmidzi.

Dalam riwayat lain juga disebutkan:
وللحديث الذي رواه احمد عن على رضي الله عنه قال: رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم توضأ ثم قرأ شيأ من القران, ثم قال " هكذا لمن ليس بجنب, اما الجنب فلا ولا اية"

Artinya: “dan dari hadits yang di riwayatkan Imam Ahmad dari Ali ra. Berkata: “ aku melihat Rasulullah saw. Berwudhu kemudian membaca sebagian dari ayat Al-Qur’an, kemudian beliau saw. Bersabda: “beginilah tata cara bagi orang yang tidak junub, sedangkan bagi orang junub maka tidak boleh membaca walau hanya ayat”.

2.      Selain Jumhur (menurut imam Bukhari: boleh bagi wanita yang haid membaca ayat Al-Qur’an- madzhab Maliki –المالكية- boleh bagi wanita yang sedang haid dan nifas membaca Al-Qur’an dalam masa masih menetesnya darah akan tetapi apabila darah sudah tidak menetes lagi-mampet- maka tidak diperbolehkan membaca nya kecuali mandi junub terlebih dahulu hal ini dikarenakan memungkinkan baginya untuk melakukan bersuci).
Adapun apabila hanya sekedar membaca Hadits, membaca dzikir (selain/di luar Al-Qur’an), membaca shalawat atas nabi Muhammad saw., menjawab muadzin maka tidak di makruhkan dan juga tidak diharamkan.
Hukum wanita membaca Al-Qur’an dengan kepala terbuka (tidak menutup aurat) atau dengan memakai pakaian yang biasa diguanakan didalam rumah?
Boleh selama tidak ada ajnabi (laki-laki bukan muhrom/muhrim) akan tetapi yang lebih ufdhal  menutup aurat,dalam keadaan suci dan menghadap kiblat.
Hukum wanita yang haid, nifas masuk kedalam masjid.
1.      Menurut Jumhur Ulama’ Tidak boleh walaupun dengan niat untuk belajar agama, hal ini berdasarkan atas larangan Nabi Muhammad saw.sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah.
2.      Menurut Zaid bin Tsabit, Boleh selama yakin akan terjaganya darah tidak akan keluar dan mengenai masjid. Wallahu ‘Alam

Disarikan oleh: Kholid Ma'mun, dari kitab فتاوى واحكام للمرأة المسلمة- لفضيلة الشيخ عطية صقر  hal 31-32

Hukum Wanita Mengerjakan Sholat Jum’at

Sholat Jum’at tidak diwajibkan bagi wanita, hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al Hakim ra.
الجمعة حق واجب على مسلم فى جماعة, الا اربعة: عبد مملوك او امرأة او صبي او مريض
Artinya:” Shalat jum’at itu perkara hak yang diwajibkan atas setiap orang Islam dengan berjama’ah, dikecualikan empat macam orang: (1) hamba sahaya yang dimiliki (2) perempuan (3) kanak-kanak (4) orang sakit.” (Riwayat Abu Dawud dan Hakim).
Dalam riwayat lain juga disebutkan dari Umi Atiyah dari Ibnu Huzaimah:
نهينا عن اتباع الجنائز ولا جمعة علينا
Artinya: “kita dilarang untuk mengikuti jenazah dan tidak ada (tidak wajib) shalat jum’at bagi kita”
Meskipun demikian apabila wanita mengerjakan shalat jum’at  maka dianggap sah dan cukup sebagai ganti shalat dzuhur (menurut kesepakatan ulama’).
Apakah shalat Jum’at disunahkan bagi wanita?
Ada beberapa pendapat tentang hal ini:
1.      Menurut pendapat madzab Hanafi (الاحناف) yang lebih utama bagi wanita (baik wanita yang ‘ajuz/ sudah tua ataupun tidak) adalah mengerjakan shalat dzuhur di rumah hal ini berdasar Karena ada larangan bagi wanita untuk mengerjakan shalat jum’at sebagaimana hadits diatas.
2.      Menurut pendapat madzhab Maliki (المالكية) apabila wanita sudah tua dan tidak menarik lagi bagi pandangan laki-laki maka hukumnya boleh untuk melaksanakan shalat jum’at, apabila wanita tersebut bisa menarik pandangan laki-laki maka hukumnya makruh, dan apabila wanita yang masih gadis dan dikhawatirkan akan timbul fitnah maka hukumnya adalah haram akan tetapi apabila tidak timbul fitnah maka hukumnya makruh.
3.      Menurut pendapat madzhab Syafi’i (الشافعية) makruh bagi wanita mendatangi jama’ah apabila bisa menarik laki-laki, atau tidak menarik laki-laki akan tetapi wanita dalam keadaan bersolek dan memakai wangi-wangian.
4.      Menurut penapat madzhab Hanbali (الحنابلة) wanita boleh mendatangi jama’ah apabila tidak bersolek, sedang apabila datang dengan bersolek maka hukumnya makruh.
Semua pendapat diatas berlaku apabila wanita tersebut diizinkan oleh wali nya untuk melaksanakan shalat jum’at sedang apabila tidak di izinkan maka hukumnya haram.
Wallahu ‘Alam
Disarikan oleh Kholid Ma'mun, dari kitab الفتاوى  من احسن الكلام فى الفتاوى والاحكام – لفضيلة الشيخ عطية صقر juz 1 halaman 627

Jumat, 17 Januari 2014

(ايات الشفاء) AYAT-AYAT PENYEMBUH




الفاتحة.......
سورة الاسراء 82:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا (82)

سورة النحل: 69
ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (69)

سورة فصلت: 44
وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ (44)
سورة يونس: 57
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (57)
سورة التوبة: 14
قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ   (14)


سورة المؤمنون: 115-118
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (115) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (116) وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ (117) وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ (118)

سورة الحشر 21- 24
لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (21) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (22) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24)

الفاتحة.......